Lagu yang Selalu Kembali Saat Bencana Datang
Setiap kali banjir kembali menelan kampung, setiap kali longsor menutup jalan dan memutus ingatan kolektif, lagu Berita Kepada Kawan kembali beredar. Ia muncul seperti surat lama yang tak pernah kehilangan alamat, sebab penderitaan yang disapanya seolah tak pernah benar-benar pindah tempat. Lagu ini kerap hadir bukan sebelum bencana, bukan pula lama sesudahnya, melainkan tepat ketika manusia sedang berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Sejak kemunculannya pada akhir dekade 1970-an, karya Ebiet G. Ade ini memang tidak dimaksudkan sebagai catatan peristiwa. Ia bukan laporan hujan, bukan pula kronik longsor. Lagu ini adalah renungan kemanusiaan—sebuah upaya membaca peristiwa melalui batin, bukan sekadar melalui data dan statistik.
Bukan Arsip Sejarah, Melainkan Cermin
Berita Kepada Kawan tidak berdiri sebagai arsip sejarah yang kaku. Ia bekerja sebagai cermin. Dan cermin, sebagaimana mestinya, tidak menunjuk kesalahan orang lain. Ia mengembalikan pandangan kepada diri sendiri. Ketika lagu ini diperdengarkan, ia tidak berkata, “Lihatlah hujan yang jahat,” melainkan berbisik, “Lihatlah perjalanan kita.”
Dalam tradisi reflektif, cermin semacam ini mengajak manusia berhenti sejenak. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui bahwa bencana bukan peristiwa yang jatuh dari langit begitu saja, melainkan bagian dari rangkaian sebab-akibat yang panjang—rangkaian yang melibatkan keputusan manusia sehari-hari.
Tadabbur Alam dan Pesan yang Berulang
Dalam khazanah keislaman, sikap reflektif ini sejalan dengan semangat tadabbur: merenungi tanda-tanda kehidupan agar manusia tidak hanya melihat, tetapi memahami makna di balik peristiwa. Alam bukan sekadar latar, melainkan pesan. Namun pesan itu sering datang berulang karena tak kunjung dipahami.
Banjir dan longsor, dalam kerangka ini, bukan hanya gejala alam, melainkan bahasa. Bahasa yang mengingatkan manusia bahwa ada relasi yang timpang antara dirinya dan lingkungan. Selama bahasa itu tidak dipahami, ia akan terus diucapkan—dalam bentuk peristiwa yang berulang.
Empati yang Berhenti di Kesedihan
Yang kerap terjadi justru sebaliknya. Lagu ini diputar, dibagikan, dan dikutip, tetapi hanya sebagai pengiring kesedihan sesaat. Ia menjadi soundtrack duka, bukan panggilan perubahan. Setelah air surut dan jalan kembali dibuka, kehidupan berjalan seperti biasa.
Hutan tetap dibuka atas nama investasi. Sungai tetap dipersempit demi ekspansi kota. Lereng tetap dibebani bangunan, seolah tanah tak pernah memiliki batas daya dukung. Lalu manusia kembali heran ketika air tak lagi tahu ke mana harus mengalir. Di titik inilah empati kehilangan daya transformasinya—ia berhenti sebagai rasa, tidak berlanjut menjadi sikap.
“Perjalanan” sebagai Metafora Peradaban
“Berita kepada kawan, tentang perjalanan ini…” Kalimat pembuka itu terdengar sederhana. Namun kata “perjalanan” menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan peradaban. Bagaimana manusia melangkah, apa yang ia korbankan, dan apa yang ia abaikan demi kenyamanan dan pertumbuhan ekonomi.
Ebiet tidak menyusun kronologi hujan dan longsor. Ia menyampaikan kesaksian batin: ada sesuatu yang keliru dalam perjalanan manusia bersama alamnya. Bukan hujan yang patut dicurigai, melainkan cara manusia memperlakukan tanah dan air—dua unsur yang justru menopang hidup.
Kritik Tanpa Resep Kebijakan
Menariknya, Berita Kepada Kawan tidak menawarkan solusi kebijakan. Ia tidak berbicara tentang tanggul, bendungan, atau regulasi teknis. Ia berbicara tentang jarak—jarak emosional dan etis antara manusia dan lingkungan yang menopangnya.
Di sanalah letak kritiknya yang paling tajam. Sebab sebelum solusi teknis disusun, ada persoalan sikap yang harus dibenahi. Tanpa perubahan cara pandang, kebijakan apa pun berisiko menjadi tambalan sementara yang hanya menunda masalah.
Empati, Etika, dan Tanggung Jawab
Dalam konteks kebudayaan Indonesia, lagu ini mengingatkan bahwa empati tanpa tanggung jawab adalah empati yang rapuh. Merasa sedih melihat korban bencana adalah hal manusiawi. Namun berhenti pada kesedihan tanpa refleksi berarti membiarkan lingkaran yang sama terulang.
Berita Kepada Kawan menuntut lebih dari sekadar simpati. Ia mengajak pendengarnya menghubungkan duka dengan pilihan hidup sehari-hari: cara kita mengonsumsi, membangun, dan memaknai kemajuan. Ia menantang kita untuk mengubah empati menjadi etika.
Menutup dengan Refleksi yang Terbuka
Menghayati lagu ini berarti bersedia menempuh jalan yang lebih sunyi: jalan refleksi. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui bahwa bencana bukan semata takdir alam, melainkan cermin relasi manusia dengan semesta. Selama relasi itu tidak berubah, lagu ini akan terus beredar setiap musim hujan—seperti surat lama yang selalu kembali ke alamat yang sama.
Namun di situlah harapannya tersimpan. Lagu ini akan tetap relevan selama manusia masih bersedia mendengarnya bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan kesadaran. Dan mungkin, pada suatu hari ketika Berita Kepada Kawan tak lagi diputar setiap kali banjir datang, kita bisa mengatakan bahwa pesannya akhirnya benar-benar dipahami.
Baca Juga : Bengawan Solo Jadi Jembatan Seni Indonesia–Tiongkok
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : marihidupsehat

More Stories
Chest Voice: Pengertian, Fungsi, dan Latihan Efektif
Suara Kepala: Apa Itu dan Cara Mencapainya Saat Bernyanyi
Mengenal Teknik Falsetto dalam Olah Vokal