Di dalam budaya modern, khususnya budaya pop, perempuan sering kali dihadapkan pada tuntutan yang tampak sederhana namun melelahkan: harus rapi, harus konsisten, harus mudah dipahami, dan—yang paling sering—harus masuk akal menurut standar sosial. Dalam lanskap inilah lagu Spaghetti dari LE SSERAFIM hadir sebagai anomali yang disengaja. Ia tidak menawarkan kejelasan, tidak mengejar keteraturan, dan tidak berusaha menyenangkan semua orang. Lagu ini datang seperti sepiring spaghetti yang terjatuh ke lantai: kusut, lengket, dan tidak meminta maaf.
Berbeda dari banyak lagu pop yang mengedepankan narasi linear dan emosi yang mudah diidentifikasi, Spaghetti justru bergerak dalam ketidakteraturan. Ia menolak untuk dijinakkan oleh struktur makna yang rapi. Tidak ada alur cerita yang jelas, tidak ada klimaks emosional yang konvensional, dan tidak ada resolusi yang menenangkan. Pilihan ini bukan kebetulan, melainkan sikap artistik yang sadar: kekacauan dijadikan bahasa.
Spaghetti dalam konteks lagu ini jelas bukan sekadar makanan. Ia adalah metafora tentang hidup yang tidak lurus, tentang keinginan yang saling bertabrakan, tentang identitas yang tidak bisa diringkas ke dalam satu definisi tunggal. Dalam masyarakat yang terbiasa mengklasifikasikan perempuan—kuat atau lembut, rasional atau emosional, mandiri atau bergantung—Spaghetti menolak seluruh dikotomi tersebut. Ia memilih untuk menjadi “berantakan” sebagai bentuk kejujuran.
Menariknya, perlawanan yang ditawarkan LE SSERAFIM tidak hadir dalam bentuk amarah yang meledak-ledak. Lagu ini tidak terdengar seperti teriakan protes atau manifesto politik yang lantang. Justru sebaliknya, ada nada kelelahan yang matang di dalamnya. Kelelahan dari terlalu sering disalahpahami, terlalu sering diminta menjelaskan diri, dan terlalu sering dipaksa untuk “masuk akal”.
Di sinilah Spaghetti terasa dewasa. Ia bukan pemberontakan remaja yang impulsif, melainkan keputusan sadar untuk berhenti menjelaskan diri sendiri. Ada pernyataan sunyi namun tegas: aku tidak perlu dipahami sepenuhnya agar valid. Sikap ini terasa relevan dalam konteks perempuan modern yang hidup di bawah pengawasan konstan—baik di media sosial, ruang kerja, maupun ruang publik.
Secara musikal, lagu ini juga mendukung pesan tersebut. Ritmenya terasa tidak stabil, seolah enggan menetap pada satu pola yang nyaman. Struktur lagunya menolak progresi pop klasik yang mudah ditebak. Lirik-liriknya kadang terasa absurd, terputus, bahkan tidak koheren. Namun justru di sanalah makna bekerja. Ketidaksinkronan menjadi pernyataan: tidak semua pengalaman manusia—terutama pengalaman perempuan—bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang rapi.
Jika biasanya musik pop meminta pendengarnya untuk ikut bernyanyi, ikut merasakan, dan ikut memahami, Spaghetti meminta sesuatu yang jauh lebih sulit: berhenti menghakimi. Lagu ini tidak mengajak pendengar untuk “mengerti sepenuhnya”, melainkan untuk menerima bahwa tidak semua hal harus bisa dijelaskan. Ada pengalaman yang hanya bisa dirasakan, bukan dirumuskan.
Dalam konteks industri K-pop yang dikenal sangat terstruktur—baik dari segi visual, konsep, hingga narasi idol—kehadiran lagu seperti Spaghetti menjadi menarik. Ia seperti celah kecil di dalam sistem yang sangat rapi. LE SSERAFIM tidak sepenuhnya keluar dari kerangka pop, tetapi mereka mendorong batasnya. Mereka menunjukkan bahwa bahkan di dalam industri yang serba dikontrol, masih ada ruang untuk keanehan dan ketidakteraturan.
Lagu ini juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap budaya konsumsi musik di era digital. Di tengah dominasi algoritma yang menyukai lagu-lagu “mudah dicerna”, Spaghetti justru hadir sebagai karya yang menuntut kesabaran. Ia tidak langsung menyenangkan. Ia tidak segera melekat. Pendengar dipaksa untuk berhenti sejenak, atau justru merasa tidak nyaman. Dan mungkin, ketidaknyamanan itulah pesan utamanya.
Perempuan sering kali diharapkan untuk “rapi” agar diterima—rapi secara emosional, rapi secara naratif, rapi secara sosial. Spaghetti membongkar tuntutan itu. Ia mengatakan bahwa kekusutan bukanlah kegagalan, melainkan kondisi manusiawi. Bahwa identitas tidak harus konsisten setiap saat. Bahwa perasaan boleh bertabrakan tanpa harus segera diselesaikan.
Pada akhirnya, Spaghetti bukan lagu yang meminta pengakuan. Ia tidak mencari validasi. Ia hanya ada, dengan segala ketidakteraturannya. Seperti hidup itu sendiri. Seperti tubuh. Seperti perempuan yang akhirnya memilih untuk tidak lagi menjelaskan dirinya kepada dunia.
Dan mungkin, di situlah kekuatan terbesarnya: Spaghetti mengajarkan bahwa kebebasan tidak selalu berbunyi keras. Kadang, ia hadir dalam bentuk keengganan untuk merapikan diri demi kenyamanan orang lain.
Baca Juga : Slank dan “Republik Fufu Fafa” Kritik atau Arah Politik Baru
Cek Juga Artikel Dari Platform : cctvjalanan


More Stories
Chest Voice: Pengertian, Fungsi, dan Latihan Efektif
Suara Kepala: Apa Itu dan Cara Mencapainya Saat Bernyanyi
Mengenal Teknik Falsetto dalam Olah Vokal