Hari pertamaku di tahun 2026 terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya awal tahun kuisi dengan kegiatan yang lazim—berenang, piknik ke gunung, atau sekadar bersantai—kali ini aku memilih sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya: menonton pertunjukan musik campursari dari komunitas Jowo Ngawiji di Pasar Seni Ancol.
Pilihan ini terasa unik, bahkan bagi diriku sendiri. Bukan karena lokasinya yang berada di kawasan wisata, melainkan karena musik campursari bukan genre yang akrab dalam keseharianku. Lagu-lagu berbahasa Jawa, irama gamelan yang berpadu dengan keyboard dan kendang, serta suasana pertunjukan yang cair membuat pengalaman ini terasa seperti memasuki ruang budaya yang selama ini hanya kulihat dari kejauhan.
Bahasa yang Tak Kupahami, Suasana yang Tetap Mengikat
Sejak awal pertunjukan, aku menyadari bahwa sebagian besar lagu dan dialog dibawakan dalam bahasa Jawa. Pembawa acara menggunakan bahasa tersebut ketika memperkenalkan judul lagu, nama penyanyi, hingga menyelipkan guyonan khas yang disambut tawa penonton.
Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang diucapkan. Maklum, aku lahir, dibesarkan, dan menjalani hampir seluruh hidup di Jakarta, jauh dari tradisi tutur Jawa. Namun ada hal menarik yang terjadi: meski tidak paham maknanya, aku tetap bisa menikmati suasana. Ketika penonton lain tertawa, aku ikut tertawa. Ketika irama musik mengalun riang, tubuh ini ikut bergoyang.
Di titik itu aku menyadari bahwa musik memiliki bahasa universal. Ia tidak selalu menuntut pemahaman literal, tetapi cukup membuka ruang perasaan. Campursari bekerja bukan hanya lewat lirik, melainkan lewat suasana, ritme, dan interaksi sosial yang terbangun di sekeliling panggung.
Perpaduan Lagu, Perpaduan Generasi
Menariknya, pertunjukan Jowo Ngawiji tidak sepenuhnya “eksklusif Jawa”. Di sela-sela lagu campursari, para penyanyi juga membawakan lagu dangdut dan pop lawas yang akrab di telinga lintas generasi. Lagu seperti Kopi Dangdut dan Bukit Berbunga membuat penonton dari berbagai usia ikut bernyanyi bersama.
Para penyanyi—Anya, Fitri, Chelsea Olivia, Agus, dan Yono—tampil dengan gaya yang beragam. Ada yang mengenakan kebaya dan bersanggul rapi, ada pula yang tampil dengan busana modern atau perpaduan modern-tradisional. Perbedaan gaya ini justru mempertegas satu hal: campursari bukan musik yang terjebak di masa lalu, melainkan ruang dialog antara tradisi dan kekinian.
Suasana di sekitar panggung utama Pasar Seni Ancol terasa akrab dan meriah hampir sepanjang hari. Tidak ada jarak kaku antara penampil dan penonton. Semua terasa setara, cair, dan penuh kehangatan.
Panggung Sebagai Ruang Bersama
Salah satu momen paling menarik adalah ketika para penyanyi mengajak penonton untuk ikut bernyanyi atau bahkan naik ke atas panggung. Beberapa penonton tampil dengan penuh percaya diri, menyanyikan lagu favorit mereka diiringi musik campursari yang hidup.
Di bawah panggung, penonton lain ikut berjoget. Tidak ada koreografi resmi, tidak ada aturan baku. Setiap orang bergerak dengan caranya sendiri. Anak-anak, orang tua, pasangan muda, hingga wisatawan terlihat larut dalam suasana.
Panggung di hari itu bukan sekadar tempat pertunjukan, tetapi ruang bersama. Sebuah ruang di mana identitas, usia, dan latar belakang seolah melebur dalam irama yang sama.
Saweran: Apresiasi yang Tulus
Sebagai bentuk apresiasi, para penonton tak segan memberikan uang saweran kepada penyanyi. Mereka sudah menyiapkan uang pecahan—lima ribuan, sepuluh ribuan, hingga seratus ribuan—yang digenggam di tangan sambil berjoget mendekati panggung.
Saweran di sini bukan sekadar tradisi, melainkan simbol kebahagiaan dan penghargaan. Ada niat tulus untuk berbagi rezeki di awal tahun, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada para seniman yang menghadirkan kegembiraan.
Pemandangan itu terasa hangat. Seni, ekonomi, dan emosi bertemu dalam satu momen yang sederhana namun bermakna.
Campursari sebagai Musik Persilangan
Jika menelusuri sejarahnya, campursari adalah genre musik khas Jawa yang memadukan unsur tradisional—seperti gamelan, kendang, dan langgam Jawa—dengan instrumen modern seperti gitar dan keyboard, serta sentuhan pop, keroncong, dan dangdut.
Genre ini diperkirakan lahir sekitar tahun 1950-an dan dipopulerkan oleh RM Samsi melalui Radio Republik Indonesia Semarang. Pada era 1980-an, campursari berkembang pesat berkat kelompok Maju Lancar yang dipimpin Manthous. Sejak saat itu, campursari menjadi jembatan antara generasi lama dan baru.
Apa yang kutonton di Pasar Seni Ancol adalah bukti bahwa campursari masih hidup dan relevan. Ia tidak hanya bertahan, tetapi beradaptasi—menemukan audiens baru di ruang-ruang urban seperti Jakarta.
Refleksi di Awal Tahun
Menonton campursari di hari pertama 2026 memberiku perspektif baru. Bahwa merayakan tahun baru tidak selalu harus dengan hal besar atau mewah. Kadang, cukup dengan membuka diri pada pengalaman budaya yang berbeda.
Di tengah hiruk-pikuk kota dan derasnya arus musik digital, campursari menawarkan sesuatu yang langka: kebersamaan tanpa sekat, kegembiraan tanpa pretensi, dan tradisi yang tetap bernapas di zaman modern.
Hari itu, aku tidak hanya menonton musik. Aku menyaksikan bagaimana budaya bekerja—menghubungkan orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal, dalam irama yang sama. Dan mungkin, itulah makna terbaik untuk memulai tahun yang baru.
Baca Juga : Perkembangan Musik Indonesia di Era Digital
Cek Juga Artikel Dari Platform : baliutama


More Stories
Chest Voice: Pengertian, Fungsi, dan Latihan Efektif
Suara Kepala: Apa Itu dan Cara Mencapainya Saat Bernyanyi
Mengenal Teknik Falsetto dalam Olah Vokal