lagupopuler.web.id Media sosial kembali membuktikan kekuatannya dalam menghidupkan tren global. Kali ini, sebuah lagu lawas asal Rusia mendadak populer di Indonesia dan ramai digunakan warganet dalam berbagai konten hiburan.
Lagu tersebut berjudul “Moy Marmeladny” yang dipopulerkan oleh penyanyi Katya Lel. Namun di telinga pengguna internet Indonesia, lagu ini lebih dikenal dengan sebutan “lagu muah muah”.
Nama itu muncul karena bagian chorus-nya yang khas, terdengar seperti pengulangan bunyi yang catchy dan mudah menempel di ingatan. Banyak orang yang bahkan tidak tahu judul aslinya, tetapi langsung mengenali lagu ini hanya dari potongan sound yang viral.
Fenomena ini menjadi contoh bagaimana musik bisa menemukan kehidupan baru, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Kenapa Disebut Lagu “Muah Muah”?
Warganet Indonesia terkenal kreatif dalam memberi nama tren. Dalam kasus ini, bagian paling ikonik dari lagu “Moy Marmeladny” adalah chorus yang terdengar unik dan repetitif.
Alih-alih menyebut judul Rusia yang cukup sulit diucapkan, pengguna TikTok lebih mudah menyebutnya dengan istilah “muah muah”.
Nama sederhana ini justru membuat lagu tersebut semakin cepat menyebar. Sound yang mudah diingat sering kali menjadi kunci utama sebuah lagu viral di era digital.
Ketika orang merasa familiar dengan satu bagian kecil, mereka terdorong untuk ikut menggunakan sound tersebut dalam video mereka sendiri.
Makna Lagu yang Manis Seperti Permen
Walaupun viral karena chorus-nya, lagu ini sebenarnya memiliki makna yang cukup romantis. “Moy Marmeladny” menggambarkan kisah cinta yang manis dan penuh rasa hangat.
Marmalade sendiri adalah sejenis permen atau selai buah yang identik dengan rasa manis. Lagu ini menggunakan metafora tersebut untuk menggambarkan perasaan jatuh cinta yang lembut dan menyenangkan.
Namun yang menarik, makna lirik bukan selalu alasan utama sebuah lagu viral. Di media sosial, yang paling penting adalah vibe, mood, dan potongan musik yang cocok untuk konten kreatif.
TikTok Menghidupkan Lagu Dua Dekade Kemudian
Lagu ini dirilis pada awal era 2000-an, tetapi baru kembali meledak setelah digunakan sebagai sound viral di TikTok.
Inilah kekuatan platform digital. TikTok mampu mengangkat lagu lama menjadi populer lagi hanya melalui potongan musik berdurasi beberapa detik.
Sound “Moy Marmeladny” digunakan dalam berbagai jenis konten, seperti:
- Video lucu dan meme
- Dance challenge
- Editan aesthetic
- Konten nostalgia
- Video pasangan dan romance
- Hiburan kreatif ala Gen Z
Ketika satu sound mulai sering muncul, algoritma TikTok akan mendorongnya lebih luas, membuat tren semakin sulit dihentikan.
Sentuhan Khas Warganet Indonesia
Salah satu alasan mengapa lagu ini terasa sangat dekat dengan publik Indonesia adalah karena warganet memberikan sentuhan lokal.
Banyak konten kreator Indonesia menggunakan sound ini dengan gaya humor khas, ekspresi unik, dan editan yang relatable.
Akhirnya, lagu ini tidak hanya menjadi tren global, tetapi juga menjadi bagian dari budaya digital Indonesia.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa musik bisa beradaptasi dengan konteks budaya yang berbeda. Lagu Rusia bisa terasa akrab di Indonesia karena dibungkus ulang lewat kreativitas netizen.
Pasar Media Sosial Indonesia yang Sangat Besar
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Hal ini menjadi faktor penting dalam cepatnya penyebaran tren.
Dengan jutaan pengguna aktif di TikTok dan Instagram, sebuah sound yang viral bisa menjangkau audiens luas hanya dalam waktu singkat.
Ketika sebuah lagu mulai digunakan oleh banyak kreator, efek domino langsung terjadi:
- Video bertambah banyak
- Sound semakin populer
- Tren masuk FYP lebih sering
- Pengguna lain ikut mencoba
- Viral semakin besar
Inilah alasan mengapa Indonesia sering menjadi “mesin viral” bagi banyak lagu internasional.
Katya Lel Terharu Melihat Antusiasme Indonesia
Fenomena viral ini akhirnya sampai ke telinga Katya Lel. Sang penyanyi mengaku terharu karena lagu yang ia nyanyikan bertahun-tahun lalu kini kembali dicintai generasi baru.
Katya juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para penggemar, termasuk warganet Indonesia yang ikut membuat lagunya populer kembali.
Bagi seorang musisi, momen seperti ini tentu sangat emosional. Lagu lama yang mungkin sudah jarang dibicarakan tiba-tiba hidup lagi di belahan dunia lain.
Ini membuktikan bahwa karya musik memiliki umur yang panjang, bahkan bisa melampaui waktu dan bahasa.
Musik Melampaui Batas Negara dan Generasi
Kisah viralnya “Moy Marmeladny” menjadi bukti bahwa musik adalah bahasa universal.
Orang mungkin tidak memahami lirik Rusia, tetapi tetap bisa merasakan energi, mood, dan kesan manis dari lagu tersebut.
Media sosial membuat jarak antar negara terasa semakin kecil. Lagu yang dulu populer di Rusia kini bisa menjadi soundtrack hiburan di Indonesia.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa generasi baru tidak hanya menikmati musik terbaru, tetapi juga mampu menemukan kembali lagu-lagu lama melalui platform digital.
Penutup: Lagu Lama Bisa Hidup Lagi Lewat Media Sosial
Viralnya lagu Rusia “Moy Marmeladny” atau “muah muah” di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana media sosial bisa menghidupkan kembali karya lama.
Sound TikTok mampu membawa lagu dua dekade lalu kembali masuk ke budaya pop global. Katya Lel pun terharu melihat antusiasme penggemar dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa musik selalu punya cara untuk kembali hadir, melampaui batas bahasa, negara, dan generasi.

Cek Juga Artikel Dari Platform infowarkop.web.id

More Stories
Radiohead Protes Musik Dipakai Tanpa Izin, Produser Melania Buka Suara
Bandcamp Tegas Tolak Peredaran Musik Hasil AI
Pop Music Chart Day, Perayaan Musik Pop Paling Berpengaruh